Desain Eksperimen Murni ( True Eksperiment)
Desain eksperimen murni melibatkan peneliti dalam pembentukan kelompok subjek dan manipulasi perlakuan yang diberikan pada kelompok yang berbeda tersebut. Pembentukan kelompok ini dengan cara penempatan acak, dimana setiap individu subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi anggota salah satu kelompok. Penempatan acak ini dapat lebih menyakinkan, terutama bila subjeknya cukup banyak, diantara subjek dalam masing-masing kelompok tidak ada perbedaan faktor yang berarti sebelum diberi perlakuan. Selanjutnya ,perlakuan eksperimen diberikan pada salah satu kelompok dan perlakuan kontrol diberikan pada yang lain sehingga memungkinkan untuk membandingkan antara pengaruh dari pemberikam perlakuan tersebut.
Bahan penting dari desain eksperimental yang benar adalah bahwa subjek secara acak ditugaskan untuk kelompok perlakuan. Pengacakan adalah teknik yang kuat untuk mengendalikan karakteristik ancaman tunduk validitas internal, pertimbangan utama dalam penelitian pendidikan.
Desain eksperimen penelitian dilakukan dengan tiga cara, yaitu the randomized posttes-only control group, the randomized pretes-posttescontrol group, dan the randomizes solomon four group. Namun kali ini hanya akan membahas the randomized posttes-only control group.
Desain Kelompok Acak dengan Hanya Postest
Menurut Ibnu Hadjar, 1999. Pretes tidaklah menjadi kriteria utama bagi pelaksanaan penelitian eksperimen murni bila jumlah subyeknya cukup besar (lebih dari 15 individu untuk masing-masing kelompok ) dan pengelompokkannya dilakukan secara acak. Hal ini dikarenakan ekuivalensi kondisi antar kelompok tersebut sebelum pemberian perlakuan eksperimen dapat terjamin secara meyakinkan.
Menurut Fraenkel, 2011. Kontrol desain kelompok acak hanya postest melibatkan dua kelompok yang dibentuk oleh tugas acak. Satu kelompok menerima perlakuan eksperimental sementara yang lain tidak, dan kemudian kedua kelompok adalah diuji postes sebagai variabel dependen.
Langkah –langkanh dari desain ini menurut Ibnu Hadjar,1999 yaitu:
1. Melakukan penempatan acak terhadap subjek
2. Manipulasi perlakuan terhadap kelompok kesperimental
3. Diuji dan melaksanakan posttes
4. Melihat hasil dan mambandingkan dengan kelompok kontrol.
Desain Kelompok Acak dengan Hanya Postest, bila penelitian tersebut menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding untuk kelompok eksperimen.
Berikut ini adalah tabel desain kontrol group posttest only menurut Fraenkel,2011.
Kelompok yang mendapat perlakuan
|
R
|
X
|
O
|
Kelompok yang dikontrol
|
R
|
C
|
O
|
Keterangan :
simbol X merupakan paparan perlakuan
simbol O mengacu pada pengukuran variabel dependen.
Simbol R merupakan tugas acak individu untuk kelompok.
Simbol C mewakili kelompok kontrol.
Sedangkan bila penelitian dimaksudkan untuk menguji pengaruh perlakuan yang berbeda dari variabel independen terhadap dependen. Misalnya seorang peneliti bermaksud untuk menguji perbedaan tiga macam metode pembelajaran terhadap prestasi siswa. Maka digunakanlah kelompok pembanding (perlakuan yang berbeda diberikan pada kelompok yang berbeda), sehingga desainya dapat digambarkan sebagai berikut (Ibnu Hadjar,1999).
Menurut Borg &Gall(1979) dalam Hadjar, 1999. Desain eksperimen yang hanya menggunakan postes ini cocok untuk digunakan bila pretes tidak mungkin dilaksanakan atau pretes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen.
Menurut Fraenkel, 2011. Dalam desain ini, kontrol ancaman tertentu yang sangat baik. Melalui penggunaan tugas acak, ancaman karakteristik subjek, pematangan, dan regresi statistik dikendalikan dengan baik untuk. Karena tidak ada subjek dalam penelitian diukur dua kali, pengujian tidak kemungkinan ancaman. Ini mungkin yang terbaik dari semua desain untuk digunakan dalam studi eksperimental, asalkan ada setidaknya 40 subyek dalam setiap kelompok. Namun ada beberapa ancaman terhadap validitas internal yang tidak dikendalikan oleh desain ini. Yang pertama adalah kematian. Karena dua kelompok yang sama, kita harapkan tingkat putus sekolah yang sama dari masing-masing kelompok. Namun, paparan perlakuan dapat menyebabkan lebih banyak individu dalam kelompok eksperimen putus (atau tinggal di) dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini dapat mengakibatkan dua kelompok menjadi berbeda dalam hal karakteristik mereka, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi hasil pada posttest. Untuk alasan ini, peneliti harus selalu melaporkan berapa banyak mata pelajaran putus setiap kelompok selama percobaan. Ancaman sikap (efek Hawthorne) adalah mungkin. Selain itu, implementasi, bias pengumpul data, lokasi, dan ancaman sejarah mungkin ada. Ancaman ini kadang-kadang dapat dikendalikan oleh modifikasi sesuai dengan desainini.
Sebagai contoh pada desain ini, mempertimbangkan sebuah studi hipotetis di mana peneliti menyelidiki efek dari serangkaian lokakarya pelatihan sensitivitas di fakultas moral di distrik sekolah tinggi besar. (1) Peneliti secara acak memilih sampel dari 100 guru dari semua guru di kabupaten. (2) oeneliti mengacak 100 guru yang telah terpilih sebelumnya untuk dua kelompok; (2) satu kelompok mendapatkan perlakuan khusus sedangkan kelompok lainnya tidak mendapatkan perlakuan khusus dan kemudian (3) mengukur moral masing-masing kelompok mengguru nakankuesioner.
Kelemahan desain post-tes tanpa pre tes ini menurut Ibnu Hadjar adalah:
1. Perbedaan awal antar kelompok subjek yang mungkin tidak dapat ditekan dengan penempatan acak tidak dapat terdeteksi.
2. Perbedaan tingkat pengaruh perlakuan yang berbeda pada variabel dependen tidak dapat diuji. Dengan kata lain,perbedaan perubahan yang disebabkan oleh adanya perlakuan tidak dapat diketahui. Hal ini dikarenakan kontrol statistik yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kovarians tidak dapat digunakan.
3. Perbedaan antar kelompok yang mungkin disebabkan oleh mortalitas tidak dapat diketahui.
Meskipun demikian, desain eksperimen postes lebih baik jika dibandingkan dengan desain eksperimen pre test-postest. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen yang demikian pre tes akan berpengaruh pada perlakuan.
Berbeda dengan teknik yang digunakan dalam pretes-postes, teknik yang biasanya digunakan dalam desain hanya postes adalah teknik analisis uji-t, bila melibatkan dua kelompok dan analisis varian bila menggunakan lebih dari dua kelompok. Sedangkan bila nilainya tidak terdistribusi secara normal atau mendekati normal, teknik yang biasa digunakan adalah uji non-paramagnetik.
0 komentar:
Posting Komentar